Minggu, 30 April 2017

PROPOSAL PENELITIAN SKRIPSI
PENGGUNAAN SISTEM BARCODE BERBASIS ANDROID DALAM KEAMANAN PEMARKIRAN KAMPUS
Ditujukan Dalam Penyusunan Skripsi Guna Memenuhi Persyaratan memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan Pada Progam Studi Sistem Informasi Manajemen
Description: D:\uksw.png

Nama : Jatra Nandika Hutama
NIM : 672011129

Progam Studi Teknik Informatika Mobile
Fakultas Teknologi Informasi
Universitas Kristen Satya Wacana
Salatiga
2014
PROPOSAL PENELITIAN
PENGGUNAAN SISTEM BARCODE BERBASIS ANDROID DALAM KEAMANAN PEMARKIRAN KAMPUS
Nama : Jatra Nandika Hutama
NIM : 672011129
Telah dibaca dan diperiksa untuk disajikan mahasiswa yang bersangkutan dalam kolokium dengan rekomendasi (masukan) berikut catatan atas rekomendasi Wali Studi
_________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________








Mengetahui,                                                                                            Salatiga, 16 Maret 2014
                                                                                                                                     Wali Studi



Augie David Manuputty, S.Kom., M.Cs.                                              Ruddy Latuperissa,SE
KATA PENGANTAR
Puji syukur kepada Tuhan atas berkat rahmat dan penyertaan-Nya sehingga penulis dapat melaksanakan dan menyelesaikan penulisan proposal skripsi ini dengan judul “Penggunaan Sistem Barcode Berbasis Android dalam Keamanan Pemarkiran Kampus”
Penulis menyadari bahwa baik dalam perjalanan studi maupun dalam penyelesaian skripsi ini, penulis banyak memperoleh bimbingan dan motivasi dari berbagai  pihak,  oleh  karena  itu  pada  kesempatan  ini  penulis  menyampaikan terimakasih yang sedalam-dalamnya kepada:
1.      Tuhan Yesus Kristus yang telah memberikan hikmat kepada penulis sehingga mampu menyelesaikan penulisan proposal ini.
2.      Teman – teman yang telah memberikan masukan dalam pembuatan proposal ini.
3.      Dosen dan para pembimbing yang sudah memberikan dukungan, semangat, dan masukan terhadap penulis sehingga dapat menyelesaikan penulisan proposal ini.
4.      Semua pihak yang tidak bisa disebutkan penulis satu persatu yang telah membantu penulis untuk menyelesaikan proposal ini.
Penulis menyadari bahwa dalam penulisan proposal ini masih banyak kekurangan. Oleh karena itu penulis menerima adanya masukkan saran atau kritik, yang sifatnya membangun demi kebaikan penulisan proposal ini, dari semua pihak untuk menyempurnakan proposal ini di masa akan datang.

Salatiga, Febuari 2013
Penulis



DAFTAR ISI
HALAMAN JUDUL................................................................................................
LEMBAR PERSETUJUAN.......................................................................................
KATA PENGANTAR..............................................................................................
DAFTAR ISI..........................................................................................................
BAB I. PENDAHULUAN
1. Latar belakang...............................................................                
2. Tujuan Penelitia.............................................................                
3. Manfaat Penelitian........................................................
4. Rumusan Masalah.........................................................                 
BAB II. TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Pengertian Barcode.......................................................................
              2.1.1 Sejarah Barcode..............................................................
              2.1.2 Jenis-jenis barcode...............................................................
              2.1.3 Barcode dua dimensi...........................................................
              2.1.4 Cara kerja barcode..................................................................
              2.1.5 Membaca barcode...........................................................
2.2 Pengertian Android.....................................        
                                   
BAB III. METODELOGI
1. Proses Pengambilan Data.............................................                  
2. Lokasi Penelitian...........................................................                 
BAB IV. JADWAL PENELITIAN
 Jadwal Penelitian............................................................                  
BAB V. PENUTUP
3.1 Kesimpulan……………………………………………….
3.2 Saran………………………………………………………



ABSTRAK
Andorid merupakan salah satu teknologi yang berkembang pesat di akhir tahun ini. Banyak sekali aplikasi yang mampu dilakukan teknologi ini dalam berbagai bidang untuk kelancaran dalam berbagai aspek pada kegiatan yang dilakukan manusia. Teknologi ini mampu mengemban berbagai aplikasi yang dilakukan oleh Windows. Dan tidak diragukan lagi teknologi ini lebih mudah dan lebih sederhana. Salah satu kegunaan yang mampu di lakukan Android yaitu membaca sistem barcode yang di dalam barcode tersebut terdapat tulisan tertentu yang nantinya akan dimunculkan dalam bahasa tertentu.



BAB I
PENDAHULUAN
1.1  Latar belakang
Tempat parkir kampus merupakan tempat dimana kita menaruh kendaraan saat kita akan melakukan sebuah kegiatan perkuliahan yang dimana kita tidak akan menaruh kendaraan kita di depan kelas. Tapi proses pengecekan sistem identitas motor saat akan meninggalkan tempat parkir belum cukup aman.
Dengan hanya pengecekan STNK, itu belum cukup untuk melakukan pengecekan identitas kendaraan. Ketika mahasiswa tidak membawa STNK dengan meninggalkan KTM pun itu belum cukup untuk mengamankan kendaraan saat akan meninggalkan tempat parkir.
1.2  Tujuan
Tujuan penelitian ini adalah untuk membantu proses keamanan dalam sistem pemarkiran kendaraan bermotor, terutama kendaraan beroda dua. Kemudian mengurangi adanya kegiatan curanmor yang sedang marak di jaman sekarang
1.3  Manfaat
Manfaat dari pembuatan aplikasi android ini yaitu memudahkan pengecekan sistem identitas pada kendaraan yang digunakan mahasiswa dalam kampus. Mengurangi kesalahan pengecekan identitas kendaraan yang sebelumnya di lakukan manual sekarang diganti dengan aplikasi yang dijalankan dalam android.



BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Pengertian Barcode
Barcode adalah susunan garis cetak vertikal hitam putih dengan lebar berbeda untuk menyimpan data-data spesifik seperti kode produksi, nomor identitas, dll sehingga sistem komputer dapat mengidentifikasi dengan mudah, informasi yang dikodekan dalam barcode.

Sekarang barcode dapat dijumpai dimana-mana.Di supermarket, swalayan, atau di warung-warung yang ada di sekitar kita, banyak sekali kita jumpai produk-[roduk yang terdapat banyak garis hitam vertikal warna hitam yang saling berdekatan. Itulah yang disebut barcode. Di dalam barcode tersebut terdapat informasi atau data yang biasanya berupa data angka. Angka tersebut biasanya juga tercantum di bawah barcode tersebut. [1]

Kenapa Menggunakan Barcode?
Jika memang sudah ada kode angka, mengapa masih diperlukan barcode? Jawabnya adalah perangkat seperti komputer lebih mudah membaca sesuatu yang bersifat digital daripada angka yang bersifat analog. Kode barcode dengan warna contrast (hitam di atas putih) sangat mudah dikenali oleh sensor optik CCD (Charge Couple Device) atau laser yang ada pada alat pemindai (Scanner), untuk kemudian diterjemahkan oleh komputer menjadi angka. [1]
2.1.1 Sejarah Barcode
Pada tahun 1932, Wallace Flint membuat sistem pemeriksaan barang di perusahaan retail. Awalnya, teknologi kode batang dikendalikan oleh perusahaan retail, lalu diikuti oleh perusahaan industri. Lalu pada tahun 1948, pemilik toko makanan lokal meminta Drexel Institute of Technology di Philadelphia, untuk membuat sistem pembacaan informasi produk selama checkout secara otomatis.[1]

Kemudian Bernard Silver dan Norman Joseph Woodland, lulusan Drexel patent application, bergabung untuk mencari solusi. Woodland mengusulkan tinta yang sensitif terhadap sinar ultraviolet. Prototipe ditolak karena tidak stabil dan mahal. Tangal 20 Oktober 1949 Woodland dan Silver berhasil membuat prototipe yang lebih baik. Akhirnya pada tanggal 7 Oktober 1952, mereka mendapat hak paten dari hasil penelitian mereka. 1966: Pertama kalinya kode batang dipakai secara komersial adalah pada tahun 1970 ketika Logicon Inc. membuat Universal Grocery Products Identification Standard (UGPIC).[1]

Perusahaan pertama yang memproduksi perlengkapan kode batang untuk perdagangan retail adalah Monach Marking. Pemakaian di dunia industri pertama kali oleh Plessey Telecommunications. Pada tahun 1972, Toko Kroger di Cincinnati mulai menggunakan bull’s-eye code. Selain itu, sebuah komite dibentuk dalam grocery industry untuk memilih kode standar yang akan digunakan di industry.[1]
2.1.2 Jenis-jenis barcode

1. Barcode satu dimensi (linear barcodes)

Dari banyak jenis barcode yang berbeda-beda, hanya 6 yang umum digunakan antara lain: EAN, UPC, Interleaved 2 of 5 (ITF), Code 39, Codabar, dan Code 128. [2]

EAN

EAN adalah singkatan dari European Article Number. Ada dua tipe utama barcode EAN: EAN 13 yang menampilkan angka tiga belas digit dan EAN 8 yang mengkodekan delapan digit. Dalam system ini digunakan kata digit dan bukan karakter. Tidak ada karakter Alphabet yang diperkenankan dalam kode ini.

EAN-13

Kode EAN-13 membagi kelompok dalam empat bagian, tiga angka untuk kelompok pertama, 4 angka untuk kelompok kedua, dan 5 angka untuk kelompok ketiga serta satu angka untuk kelompok keempat.

Tiga digit pertama mewakili Negara dimana barcode dikeluarkan, masing-masing Negara berbeda angka (nomor kodenya). Nomor 899 diberikan untuk Indonesia. Tidak ada Negara lain di dunia yang akan memakai angka 899 kecuali Indonesia, angka ini biasanya dikenal sebagai FLAG sehingga tidak mungkin ada nomor yang dikeluarkan di dua Negara terpisah dengan nomor yang sama. Hal ini diatur oleh EAN International. Keempat digit kode berikutnya adalah untuk perusahaan pengguna (manufactur number). Jika perusahaan disebut “ABC” diterbitkan dengan nomor perusahaan “5522”, semua hal yang ditandainya harus mempunyai barcode yang dimulai dengan tujuh angka “8995522”. Karena tidak ada perusahaan Indonesia lainnya yang akan diterbitkan dengan nomor “5522”, maka hal ini tidak akan ada angka duplikasi. Susunan lima digit berikutnya mewakili kode produk dan dialokasikan oleh perusahaan untuk produk-produk unik. Perusahaan harus secara mutlak memastikan bahwa mereka tidak pernah menerbitkan nomor yang sama dua kali. Jika produk diganti dengan cara apapun juga, sekecil apapun jumlahnya (sekalipun sedikit mengganti kemasan dengan menambahkan kata ekstra “NEW FORMULA”), nomor lima digit barus harus dialokasikan.[2]

Dalam rencana produk pertama “ABC”, dengan nomor barcode “00001”, maka akan mempunyai nomor barcode “899552200001”. Untuk melengkapi kode EAN 13 (13 digit), sebuah CHECK DIGIT tercantum pada angka terakhir sesudah 12 digit terpasang. Check digit disusun secara aritmatik dari dua belas digit pertama. Sebuah perangkat lunak desain (barcode) secara otomatis akan dapat menghasilkan (menghitung) check digit ini. Check digit digunakan oleh barcode reader (alat baca barcode) untuk memastikan agar dibaca secara akurat. Reader (alat baca) barcode akan membaca keseluruh tiga belas digit dari kanan ke kiri (sebaliknya), menyusun dari keduabelas pertama angka berapa yang seharusnya menjadi digit ketigabelas dan jika hitungan ini benar, maka reader akan menganggap bahwa keseluruhan kode telah dibaca dengan benar. [2]

EAN-8

Barcode EAN 8 dibuat dengan cara serupa dengan EAN 13. Ketiga digit pertama merupakan Flag, yang diikuti oleh empat digit Pengenal Singkat (Short Identifier) berikutnya. Pengenal ini terdiri dari dua digit nomor perusahaan dan dua angka lainnya untuk produk yang unik. Digit terakhir juga merupakan check digit. [2]

UPC (Universal Product Code)

UPC diciptakan oleh Amerika Serikat yang mewakili Kode Produk Universal (Universal Product Code) dan setara dengan European Article Number, EAN. Kode-kode UPC mudah dilihat mata yang tak terlatih yang hamper tepat sama dengan kode-kode EAN, tetapi hanya akan mengkodekan dua belas digit (UPC-A) dan delapan digit (UPC-E). [2]

INTERLEAVED 2 OF 5

Tipe barcode lainnya adalah yang dikenal dengan nama Interleaved 2 of 5 atau ITF, seperti EAN, maka kode ini merupakan simbologi yang hanya terdiri dari angka-angka tetapi panjangnya dapat berubah-ubah. Satu-satunya factor pembatas untuk panjang kode ITF adalah kemampuan alat baca yang akan digunakan untuk membaca kode tersebut dan juga bahwa ITF harus memiliki jumlah digit genap. ITF digunakan untuk aplikasi industri dimana kode angka saja sudah mencukupi dan juga digunakan dalam lingkungan penjualan eceran untuk menandai BUNGKUS LUAR. ITF juga digunakan oleh pedagang eceran perhiasan, sepatu, garmen/pakaian dll, karena karakter panjangnya yang dapat diubah-ubah. [2]

CODE 39

Code 39 yang juga dikenal sebagai code 3 of 9, merupakan kode pertama berupa Alpha Numeric (huruf dan angka). Kode tersebut dapat membaca seluruh huruf besar abjad dan karakter angka serta karakter tambahan seperti -$ / + % * dan spasi. Huruf kecil tidak dapat dikodekan. Code 39 juga dimulai dan diakhiri dengan tanda bintang (*) yang dikenal sebagai kartakter start/stop dan hanya boleh digunakan pada awal dan akhir kode. [2]

CODABAR

Barcode lain yang umumnya digunakan adalah simbologi CODABAR, seperti Code 39 tetapi hanya angka-angka dan $ - / + saja yang dapat dikodekan. Karakter alpha tidak dapat dikodekan. Codabar juga menggunakan karakter start/stop, yaitu A, B, C dan D dan dapat digunakan sembarang kombinasi: satu untuk memulai kode dan satu untuk mengakhirinya. Dewasa ini simbologi ini sudah jarang digunakan. [2]

CODE 128

Code 128 merupakan symbol barcode yang namanya mendefinisikan kemampuannya untuk mengkodekan seluruh karakter ASCII 128. Simbol ini juga terkenal karena kemampuannya mengkodekan karakter-karakter tersebut dengan menggunakan unsure kode per-karakter yang lebih sedikit sehingga menghasilkan kode yang lebih padat. Kode ini memiliki ciri khusus berupa karakter start dan stop yang unik untuk pengkodean dua arah dan panjangnya dapat diubah-ubah, baik paritas karakter bar maupun spasinya dan sebuah cek character untuk integritas symbol. [2]

2.1.3 Barcode dua dimensi

Adalah barcode yang dikembangkan lebih dari sepuluh tahun lalu, tetapi baru sekarang ini mulai semakin populer. Barcode dua dimensi ini memiliki beberapa keuntungan dibandingkan linear bar codes (barcode satu dimensi) yaitu, dengan menggunakan barcode dua dimensi, informasi atau data yang besar dapat disimpan di dalam suatu ruang (space) yang lebih kecil. Contoh barcode dua dimensi adalah “symbology PDF417” yang dapat menyimpan lebih dari 2000 karakter di dalam sebuah ruang (space) yang berukuran 4 inch persegi (in2). [2]

2.1.4 Cara kerja barcode

Barcode merupakan instrumen yang bekerja berdasarkan asas kerja digital. Pada konsep digital, hanya ada 2 sinyal data yang dikenal dan bersifat boolean, yaitu 0 atau 1. Ada arus listrik atau tidak ada (dengan besaran tegangan tertentu, misalnya 5 volt dan 0 volt). Barcode menerapkannya pada batang-batang baris yang terdiri dari warna hitam dan putih. Warna hitam mewakili bilangan 0 dan warna putih mewakili bilangan 1. Mengapa demikian? Karena warna hitam akan menyerap cahaya yang dipancarkan oleh alat pembaca barcode, sedangkan warna putih akan memantulkan balik cahaya tersebut. Selanjutnya, masing-masing batang pada barcode memiliki ketebalan yang berbeda. Ketebalan inilah yang akan diterjemahkan pada suatu nilai. Demikian, karena ketebalan batang barcode menentukan waktu lintasan bagi titik sinar pembaca yang dipancarkan oleh alat pembaca. Dan sebab itu, batang-batang barcode harus dibuat demikian sehingga memiliki kontras yang tinggi terhadap bagian celah antara (yang menentukan cahaya). Sisi-sisi batang barcode harus tegas dan lurus, serta tidak ada lubang atau noda titik ditengah permukaannya. Sementara itu, ukuran titik sinar pembaca juga tidak boleh melebihi celah antara batang barcode. Saat ini, ukuran titik sinar yang umum digunakan adalah 4 kali titik yang dihasilkan printer pada resolusi 300dpi. Saat ini terdapat beberapa jenis instrumen pembaca barcode, yaitu: pena, laser, serta kamera. Pembaca berbentuk pena memiliki pemancar cahaya dan dioda foto yang diletakkan bersebelahan pada ujung pena. Pena disentuhkan dan digerakkan melintasi deretan batang barcode. Dioda foto akan menerima intensitas cahaya yang dipantulkan dan mengubahnya menjadi sinyal listrik, lalu diterjemahkan dengan sistem yang mirip dengan morse. Pembaca dengan pemancar sinar laser tidak perlu digesekkan pada permukaan barcode, tapi dapat dilakukan dari jarak yang relatif lebih jauh. Selain itu, pembaca jenis ini memiliki cermin-cermin pemantul sehingga sudut pembacaan lebih fleksible. Pembaca barcode dengan sistem kamera menggunaka sensor CCD (charge coupled device) untuk merekam foto barcode, baru kemudian membaca dan menterjemahkannya kedalam sinyal elektronik digital. Bagaimana koneksi alat pembaca barcode dengan komputer? Ada 2 macam koneksi, yaitu sistem keyboard wedge dan sistem outpu RS232. Sistem ini menterjemahkan hasil pembacaan barcode sebagai masukan (input) dari keyboard. Biasanya menggunakan port serial pada komputer. Kita memerlukan software pengantara, umumnya disebut software wedge yang akan mengalamatkan bacaan dari barcode ke software pengolah data barcode tersebut. [2]

2.1.5 Membaca barcode

Barcode UPC yang terdiri dari 13 angka yang tersusun dari tiga angka pertama merupakan kode negara, empat angka berikutnya merupakan kode manufaktur produk tersebut diproduksi, lima angka berikutnya merupakan kode produk yang akan dipublish, 1 angka terakhir merupakan check digit. Check digit ini merupakan suatu “ old-programmer’s trick” untuk mengvalidasikan digit-digit lainnya (number system character, manufacturer code, product code) yang dibaca secara teliti.[2]
2.2 Pengertian Android
Android merupakan sebuah sistem operasi yang berbasis Linux untuk telepon seluler seperti telepon pintar dan komputertablet. Android menyediakan platform terbuka bagi para pengembang untuk menciptakan aplikasi mereka sendiri untuk digunakan oleh bermacam peranti bergerak. [3]
Awalnya, Google Inc. membeli Android Inc., pendatang baru yang membuat peranti lunak untuk ponsel. Kemudian untuk mengembangkan Android, dibentuklah Open Handset Alliance, konsorsium dari 34 perusahaan peranti keras, peranti lunak, dan telekomunikasi, termasuk Google, HTC, Intel, Motorola, Qualcomm, T-Mobile, dan Nvidia. Pada saat perilisan perdana Android, 5 November 2007, Android bersama Open Handset Alliance menyatakan mendukung pengembangan standar terbuka pada perangkat seluler. Di lain pihak, Google merilis kode–kodeAndroid di bawah lisensi Apache, sebuah lisensi perangkat lunak dan standar terbuka perangkat seluler.
Di dunia ini terdapat dua jenis distributor sistem operasi Android. Pertama yang mendapat dukungan penuh dari Google atau Google Mail Services (GMS) dan kedua adalah yang benar–benar bebas distribusinya tanpa dukungan langsung Google atau dikenal sebagai Open Handset Distribution (OHD). [3]
2.2.1 Versi Android
·     Versi Beta : Dirilis 5 November 2007
·     Android 1.0 (API level 1) : Dirilis 23 September 2008
·     Android 1.1 (API level 2) : Dirilis 9 Februari 2009
·     Android 1.5 Cupcake (API level 3) : Dirilis 30 April 2009
·     Android 1.6 Donut (API level 4) : Dirilis 15 September 2009
·     Android 2.0 Eclair (API level 5) : Dirilis 26 Oktober 2009
·     Android 2.0.1 Eclair (API level 6) Dirilis 3 Desember 2009.
·     Android 2.1 Eclair (API level 7) Dirilis 12 Januari 2010
·     Android 2.2–2.2.3 Froyo (API level 8) Dirilis 20 Mei 2010, 18 Januari 2011, 22 Januari 2011, dan 21 November 2011
·     Android 2.3–2.3.2 Gingerbread (API level 9) Dirilis  6 Desember 2010, Desember 2010, dan Januari 2011
·     Android 2.3.3–2.3.7 Gingerbread (API level 10) Dirilis  9 Februari 2011, 28 April 2011, 25 Juli 2011, 2 September 2011, dan 21 September 2011
·     Android 3.0 Honeycomb (API level 11) Dirilis  22 Februari 2011
·     Android 3.1 Honeycomb (API level 12) Dirilis  10 Mei 2011
·     Android 3.2-3.2.6 Honeycomb (API level 13) Dirilis  15 Juli 2011, 20 September 2011, 30 Agustus 2011, December 2011, Januari 2012, Februari 2012
·     Android 4.0–4.0.2 Ice Cream Sandwich (API level 14) Dirilis 19 Oktober 2011, 21 Oktober 2011, 28 November 2011
·     Android 4.0.3–4.0.4 Ice Cream Sandwich (API level 15) Dirilis  16 Desember 2011, 29 Maret 2012
·     Android 4.1-4.1.2 Jelly Bean (API level 16)  Dirilis 9 Juli 2012, 23 Juli 2012, 9 Oktober 2012
·     Android 4.2-4.2.2 Jelly Bean (API level 17) Dirilis 13 November 2012, 27 November 2012, 11 Februari 2013
·     Android 4.3 Jelly Bean (API level 18) Dirilis  24 Juli 2013
·     Android 4.4 KitKat (API level 19) Dirilis 31 Oktober 2013 [4]



                   BAB III
METODELOGI
1.    Proses Pengambilan Data
Tahap-Tahap Pembuatan Program Penelitian  yang  dilakukan  untuk merancang  sistem  diperoleh  dari pengamatan  data-data  yang  ada.  Tahap-tahap  yang  dilakukan  untuk penelitian guna perancangan (pendesainan sistem) tersebut secara terstruktur adalah:
1.      Observasi
Melakukan  pengamatan  terhadap  data  yang  diteliti, menguji dengan melakukan kesalahan dalam sistem pemarkiran.
2.      Analisa data
Membuat analisa terhadap data  yang sudah diperoleh  dari hasil observasi  yaitu menggabungkan dengan laporan  survey  dan kebijakan pemakai  menjadi spesifikasi  yang  terstruktur  dengan  menggunakan pemodelan.
3.      Perancangan sistem
Memahami rancangan sistem informasi sesuai data yang ada dan mengimplementasikan  model  yang  diinginkan  oleh  pemakai.
Alat dan Bahan
Alat yang digunakan dalam penelitian ini adalah  Perangkat keras terdiri dari seperangkat komputer Perangkat  lunak  berupa  sistem operasi  Windows,  Eclips untuk oprasi Android.



Tampilan Hasil
Description: D:\KTM BARCODE JPG.jpg










2.    Lokasi Penelitian
Dalam proses penelitian ini, penulis melakukan penelitian dan pengambilan gambar di beberapa tempat :
·      Tempat parkir kampus




JADWAL PENELITIAN

1.      Jadwal Penelitian
Penelitian akan dilaksanakan pada minggu kedua bulan Februari 2014.

BAB V
PENUTUP
3.1  Kesimpulan
Setelah  melakukan  analisa,  merancang  dan  mengimplementasikan sistem pemarkiran menggunakan barcode berbasis android, diperoleh kesimpulan sebagai berikut. Progam ini dapat memperketat keamanan dalam sistem pemarkiran dan dapat mengurangi kelalaian yang dapat dilakukan manusia dalam memeriksa identitas kendaraan yang dilakukan secara manual.
3.2              Saran
Saran untuk pengembangan sistem ini adalah :




0 komentar:

Posting Komentar